Dec 18, 2016

[Movie Review] Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 (2016): Apakah Muslim Penemu Amerika?

Suksesnya film 99 Cahaya di Langit Eropa yang dirilis pada tahun 2013 dan 2014 tak bisa diikuti dengan sempurna oleh seri berikutnya dengan judul Bulan Terbelah di Langit Amerika yang dirilis tahun 2015. Tak mau pesimis, Falcon Pictures dan Max Picture kembali melanjutkan film petualangan Hanum dan Rangga di Amerika dalam mencari jejak-jejak peninggalan Islam melalui film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2.

Dengan tagline "Apakah Muslim Penemu Amerika?", saya berekspektasi tinggi bahwa film ini akan sangat fokus pada usaha Hanum dan Rangga dalam menelusuri jejak-jejak para pelaut muslim dari Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho. Ekspektasi tinggi ini membawa saya pergi ke Cipinang XXI pada hari Senin, 12 Desember 2016 bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sinopsis
Ketika Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya) hendak kembali ke Wina dari New York, Hanum kembali mendapatkan tugas baru untuk menelusuri keberadaan jejak harta karun dari Laksamana Cheng Ho yang berlayar ke Amerika jauh sebelum penemu benua Amerika yang kita ketahui Christopher Colombus tiba. Untuk itu, Hanum dan Rangga harus pergi ke San Francisco untuk membuktikan hal tersebut.

Untuk menyelesaikan misinya selama di San Francisco, Hanum mendapatkan pertolongan dari Azima (Rianti Catwright), yang ternyata juga sedang bermasalah dengan ibunya (Ira Wibowo) yang masih juga belum merestui pernikahannya dan tidak mau mengakui Sarah Husein (Hailey Franco) sebagai cucunya. Sementara itu Stefen (Nino Fernandez) terpaksa harus ikut ke San Francisco untuk menyelesaikan permasalahan cintanya dengan Jasmine (Hannah Al Rasyid).


Apakah Muslim Penemu Amerika?
Pertanyaan besar yang terlintas di benak saya dalam perjalanan ke bioskop untuk menonton Bulan Terbelah di Langit Amerika 2, "Apakah Muslim Penemu Amerika?". Pertanyaan yang juga jadi tagline promosi film ini yang dimuat dalam poster, trailer, dan berbagai materi promosi lain. Tak salah jika akhirnya menimbulkan ekspektasi yang tinggi kepada saya. Namun sayang, saya tidak mendapatkan jawaban yang saya inginkan. 100 menit durasi film tidak dimaksimalkan dengan baik. Cerita justru lebih banyak terfokus ke kisah Azima dan anaknya serta Stefen dan Jasmine. Kisah Hanum dan Rangga dalam menelusuri keberadaan harta karun peninggalan Islam di Amerika justru seperti dikesampingkan. Dan sebuah antiklimaks di akhir film karena bukti keberadaan Laksamana Cheng Ho di San Francisco hanya dijelaskan melalui sebuah narasi singkat yang tentu saja bisa saya temukan dengan mudah di mesin pencari Google.

Diluar konsep cerita yang buruk, film ini masih terselamatkan oleh sinematografi yang cukup baik. Pemandangan yang indah dari beberapa landmark khas Kota New York dan San Francisco cukup memanjakan mata, meskipun sebagian diambil menggunakan teknologi Computer Graphic Imagery (CGI), namun CGI yang digunakan di film ini jauh lebih baik dibandingkan seri-seri film sebelumnya.



Kesimpulan
Ekspektasi yang terlalu tinggi dari saya, akhirnya membuahkan kekecewaan. Pertanyaan utama di film ini "Apakah Muslim Penemu Amerika?"  hanya dijawab di akhir film melalui sebuah narasi yang sangat singkat. Sebagian besar isi film hanya diisi oleh drama permasalahan keluarga dan drama cinta klasik khas sinetron Indonesia.

Rating (3/5)

Sutradara : Rizal Mantovani
Produser : Ody Mulya Hidayat
Penulis : Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra, Alim Sudio, Baskoro Adi
Pemeran : Abimana Aryasatya, Acha Septriasa, Nino Fernandez, Hannah Al Rasyid, Ira Wibowo, Boy William, Rianti Cartwright, Yeslin Wang
Musik : Joseph S. Djafar
Penyunting : Ryan Purwoko
Produksi : Falcon Pictures, Max Pictures

Lokasi: East Jakarta, East Jakarta City, Special Capital Region of Jakarta, Indonesia

0 komentar:

Post a Comment